Muzakara.com – Ditengah derasnya arus informasi di era digital, istilah dakwah dan propaganda kerap beririsan dalam praktik komunikasi publik. Keduanya sama-sama berbentuk penyampaian pesan kepada khalayak luas. Namun, jika ditelisik lebih dalam, keduanya berdiri di atas fondasi nilai, niat, dan metode yang sangat berbeda. Dakwah berakar pada kebenaran dan tanggung jawab moral, sementara propaganda sering kali bertumpu pada kepentingan dan manipulasi persepsi.
Tulisan ini berupaya mengurai perbedaan keduanya secara argumentatif, berbasis dalil, serta relevansinya dalam kehidupan kekinian.
Hakikat Dakwah: Seruan dengan Hikmah
Secara bahasa, dakwah berarti “memanggil” atau “mengajak”. Dalam konteks Islam, dakwah adalah ajakan kepada jalan Allah dengan cara yang bijak dan penuh tanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan, tetapi juga memperhatikan metode: hikmah (kebijaksanaan), mau‘izhah hasanah (nasihat yang baik), dan dialog yang santun.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”
(HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa dakwah adalah kewajiban moral, namun tetap dalam koridor kebenaran dan tanggung jawab.
Menurut Imam Al-Ghazali, dakwah adalah proses ishlah (perbaikan) yang tidak hanya menyasar orang lain, tetapi juga diri sendiri. Dakwah bukan sekadar retorika, melainkan manifestasi akhlak.
Propaganda: Manipulasi dalam Kemasan Komunikasi
Berbeda dengan dakwah, propaganda adalah upaya sistematis untuk memengaruhi opini publik, sering kali dengan cara manipulatif, selektif, bahkan tidak jujur. Tujuannya bukan selalu kebenaran, melainkan kemenangan narasi.
Dalam propaganda, kebenaran bisa dipelintir, fakta bisa dipilih sebagian, bahkan emosi massa bisa dieksploitasi. Dalam sejarah, propaganda sering digunakan dalam konteks politik, perang, dan dominasi ideologi.
Islam secara tegas memperingatkan bahaya manipulasi informasi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menegaskan pentingnya verifikasi informasi—sesuatu yang sering diabaikan dalam praktik propaganda.
Perbedaan Mendasar: Niat, Metode, dan Tujuan
1. Niat (Motif Dasar)
Dakwah berangkat dari niat ibadah: mengajak kepada kebaikan dan mendekatkan manusia kepada Allah. Sementara propaganda berangkat dari kepentingan—baik politik, ekonomi, maupun ideologis.
Seorang da’i sejati tidak mencari popularitas, melainkan ridha Allah. Sebaliknya, pelaku propaganda sering mengukur keberhasilan dari seberapa besar pengaruh dan dominasi yang dicapai.2
2. Metode (Cara Penyampaian)
Dakwah menekankan kejujuran, keterbukaan, dan kelembutan. Bahkan dalam perbedaan pendapat, Islam mengajarkan adab.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan merusaknya.”
(HR. Muslim)
Sebaliknya, propaganda sering menggunakan teknik manipulatif: framing, pengulangan, penyederhanaan berlebihan, bahkan penyebaran ketakutan (fear appeal).
3. Tujuan (Orientasi Akhir)
Tujuan dakwah adalah perubahan yang hakiki—baik secara spiritual maupun moral. Dakwah ingin membentuk manusia yang sadar, bukan sekadar patuh.
Sedangkan propaganda bertujuan membentuk persepsi, sering kali tanpa memperhatikan apakah perubahan tersebut membawa kebaikan sejati atau tidak.
Perspektif Ulama: Dakwah sebagai Amanah
Para ulama klasik maupun kontemporer menekankan bahwa dakwah adalah amanah besar. Syekh Yusuf Al-Qaradawi menyebut dakwah sebagai “jalan para nabi” yang harus dijaga dari penyimpangan, termasuk dari praktik manipulatif yang menyerupai propaganda.
Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa kebenaran tidak boleh ditegakkan dengan cara yang batil. Artinya, metode yang digunakan dalam dakwah harus sejalan dengan nilai yang disampaikan.
Dalam konteks ini, dakwah tidak boleh menghalalkan segala cara. Jika cara yang digunakan bertentangan dengan nilai Islam, maka ia telah bergeser dari dakwah menuju propaganda.
Relevansi Kekinian: Dakwah di Era Media Sosial
Di era media sosial, batas antara dakwah dan propaganda semakin kabur. Konten keagamaan bisa viral bukan karena kedalaman maknanya, tetapi karena sensasionalitasnya.
Fenomena ini melahirkan beberapa tantangan:
- Reduksi pesan agama menjadi slogan-slogan pendek tanpa konteks.
- Polarisasi umat akibat narasi yang provokatif.
- Komodifikasi dakwah, di mana popularitas lebih diutamakan daripada substansi.
Di sinilah pentingnya kembali kepada prinsip dasar dakwah: kejujuran, hikmah, dan tanggung jawab.
Seorang da’i di era digital tidak cukup hanya fasih berbicara, tetapi juga harus memiliki integritas ilmiah dan kedewasaan emosional. Ia harus mampu membedakan antara engagement dan impact, antara viralitas dan keberkahan.
Menjaga Kemurnian Dakwah
Agar dakwah tidak terjerumus menjadi propaganda, ada beberapa prinsip yang perlu dijaga:
- Kejujuran Ilmiah
Tidak memotong dalil, tidak memelintir makna, dan selalu merujuk pada sumber yang معتبر. - Adab dalam Perbedaan
Tidak mudah menyesatkan atau menghakimi pihak lain. - Orientasi Perbaikan
Dakwah harus membangun, bukan merusak. - Kesadaran Diri
Bahwa seorang da’i juga manusia yang terus belajar dan memperbaiki diri.
Dakwah dan propaganda mungkin tampak serupa di permukaan, tetapi berbeda secara substansial. Dakwah adalah cahaya yang menerangi dengan kebenaran, sementara propaganda sering kali hanyalah bayangan yang membentuk ilusi.
Di tengah dunia yang penuh dengan kebisingan informasi, umat membutuhkan dakwah yang jernih, menenangkan, dan mencerahkan. Dakwah yang tidak hanya benar dalam isi, tetapi juga indah dalam cara.
Sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh…”
(QS. Fussilat: 33)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa dakwah sejati bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga siapa yang menyampaikan dan bagaimana ia mengamalkannya.
Dengan demikian, menjaga dakwah dari jebakan propaganda bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan moral dan spiritual. Karena pada akhirnya, yang kita sampaikan bukan hanya pesan—tetapi juga nilai, dan bahkan masa depan umat.
muzakara.com “Menggali Ilmu, Mencerahkan Umat”
