Advertisement

  • Home
  • Meneladani Jejak Nabi Ibrahim AS: Hikmah, Sejarah, dan Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

Meneladani Jejak Nabi Ibrahim AS: Hikmah, Sejarah, dan Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

Puncak kemuliaan Dzulhijjah terjadi pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu Hari Arafah. Pada hari inilah

Muzakara.com, Jakarta — Bulan Dzulhijjah bukan sekadar penanda datangnya Idul Adha dan musim ibadah haji. Lebih dari itu, bulan ini merupakan momentum spiritual yang menyimpan sejarah pengorbanan, ketundukan, dan cinta sejati kepada Allah SWT sebagaimana dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim AS.

Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan dan hiruk-pikuk dunia, umat Islam diajak kembali menengok perjalanan agung para nabi melalui ibadah Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah, dua amalan sunnah yang menjadi bagian dari kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah dibandingkan hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”
(HR. Bukhari)

Hadits shahih ini menjadi dasar kuat bahwa setiap amal saleh pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang sangat istimewa di sisi Allah SWT, termasuk puasa sunnah.

Sejarah dan Makna Tarwiyah

Tanggal 8 Dzulhijjah dikenal dengan sebutan Hari Tarwiyah. Dalam sejarah manasik haji, hari ini merupakan waktu ketika jamaah haji mulai bergerak menuju Mina untuk mempersiapkan rangkaian puncak ibadah haji di Padang Arafah.

Kata “Tarwiyah” berasal dari bahasa Arab rawa-yarwi yang bermakna “membawa bekal air” atau “merenung secara mendalam.” Pada masa dahulu, wilayah Mina dan Arafah merupakan kawasan yang sangat minim sumber air, sehingga para jamaah mempersiapkan persediaan air sebelum melanjutkan perjalanan ibadah.

Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa Hari Tarwiyah menjadi simbol perenungan Nabi Ibrahim AS ketika menerima mimpi dari Allah SWT untuk menyembelih putranya tercinta, Nabi Ismail AS. Sebuah ujian besar yang mengguncang hati seorang ayah, namun dijalani dengan penuh kepasrahan kepada Rabb semesta alam.

Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Di sinilah nilai spiritual Tarwiyah menjadi sangat mendalam: hari untuk merenung, membersihkan hati, dan mempersiapkan diri menuju ketakwaan yang lebih tinggi.

Walaupun hadits khusus mengenai Puasa Tarwiyah banyak dinilai dhaif oleh para ulama hadits, amalan puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah tetap dianjurkan karena masuk dalam keumuman amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang sangat dianjurkan dalam sunnah shahih.

Arafah: Hari Pengampunan dan Pembebasan dari Api Neraka

Puncak kemuliaan Dzulhijjah terjadi pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu Hari Arafah. Pada hari inilah jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah dalam sebuah lautan manusia yang sama-sama mengenakan pakaian ihram, tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kekayaan.

Padang Arafah menjadi simbol kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT dan gambaran kecil dari Padang Mahsyar kelak.

Rasulullah SAW bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim)

Dalam hadits lainnya Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka selain Hari Arafah.”
(HR. Muslim)

Hari Arafah adalah momentum doa-doa diijabah, air mata taubat ditumpahkan, dan hati-hati yang keras dilunakkan oleh dzikir dan munajat kepada Allah SWT.

Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim AS

Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah sejatinya bukan hanya ritual ibadah tahunan, melainkan sarana untuk meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS yang menjadi simbol ketundukan total kepada Allah SWT.

  • Nabi Ibrahim AS mengajarkan keteguhan iman
  • Siti Hajar mengajarkan kesabaran dan keyakinan
  • Nabi Ismail AS mengajarkan kepatuhan dan pengorbanan sejak usia muda

Keteladanan keluarga ini sangat relevan di tengah tantangan zaman saat ini, ketika nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kepatuhan kepada Allah mulai terkikis oleh budaya materialisme dan individualisme.

Momentum Dzulhijjah menjadi saat yang tepat untuk memperkuat hubungan keluarga, memperbanyak ibadah, menumbuhkan kepedulian sosial, dan memperbaiki hubungan sesama manusia.

Ajakan untuk Menghidupkan Sunnah

Kaum muslimin di seluruh Indonesia diajak untuk menghidupkan sunnah puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah sebagai bentuk cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Selain berpuasa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak:

  • Dzikir dan takbir
  • Membaca Al-Qur’an
  • Sedekah
  • Istighfar dan taubat
  • Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
  • Mempererat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah

Hari-hari Dzulhijjah adalah kesempatan emas yang belum tentu kembali kita temui tahun depan. Karena itu, jangan biarkan momentum penuh rahmat ini berlalu tanpa amal terbaik.

Allah SWT berfirman:

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “sepuluh malam” dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Semoga Allah SWT menerima seluruh ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita bagian dari hamba-hamba-Nya yang mendapatkan keberkahan Hari Arafah.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ
“Ya Allah, jadikan kami termasuk golongan yang mendapatkan ampunan dan rahmat pada Hari Arafah.”

Artikel Terkait