Jakarta, Mei 2026 — Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 H / 2026 M kembali menghadirkan wajah terbaik Indonesia: gotong royong, kepedulian sosial, sekaligus penguatan ekonomi kerakyatan. Tahun ini, perhatian publik tertuju pada program distribusi hewan kurban Presiden Republik Indonesia yang mencapai sekitar 1.098 ekor sapi qurban dengan bobot rata-rata antara 1 ton hingga 1,3 ton, yang tersebar di berbagai provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia.
Program ini bukan sekadar simbol ibadah dan kepedulian sosial, tetapi juga menjadi penggerak penting perputaran ekonomi nasional, khususnya bagi sektor peternakan rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan dan ekonomi pedesaan.
Di balik seekor sapi kurban berukuran jumbo, terdapat mata rantai ekonomi panjang yang melibatkan peternak lokal, pedagang pakan, tenaga kesehatan hewan, sopir angkutan, pekerja kandang, rumah potong, hingga pelaku UMKM dan distribusi pangan. Idul Adha bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga momentum ekonomi umat yang nyata dirasakan sampai ke pelosok desa.

Dengan bobot sapi mencapai lebih dari satu ton, kebutuhan perawatan, pakan, vitamin, serta proses penggemukan dilakukan dalam waktu panjang dan melibatkan biaya besar. Karena itu, ketika negara hadir membeli hewan qurban dari peternak lokal, dampaknya langsung terasa terhadap peningkatan pendapatan masyarakat desa dan keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa qurban memiliki dimensi yang sangat luas: spiritual, sosial, dan ekonomi. Dalam konteks ekonomi nasional, Idul Adha menjadi salah satu penggerak konsumsi dan distribusi yang signifikan setiap tahunnya. Perputaran uang dari sektor qurban diperkirakan mencapai triliunan rupiah dan menghidupkan berbagai sektor usaha mikro maupun menengah.
Lebih dari itu, program kurban Presiden dengan distribusi merata ke seluruh Indonesia mengandung pesan kuat tentang pemerataan perhatian negara kepada rakyat di berbagai daerah. Dari Aceh hingga Papua, masyarakat tidak hanya menerima daging kurban, tetapi juga merasakan simbol kehadiran negara dalam memperkuat solidaritas kebangsaan.
Para peternak mengaku momentum Idul Adha menjadi harapan besar setiap tahun. Banyak peternak rakyat yang mulai mempersiapkan sapi unggulan sejak satu hingga dua tahun sebelumnya demi memenuhi standar kesehatan dan bobot ideal. Hal ini membuktikan bahwa sektor peternakan lokal memiliki potensi besar apabila terus mendapatkan dukungan kebijakan, pembinaan, dan akses pasar yang baik.
Hari Raya Idul Adha pada akhirnya mengajarkan bahwa pengorbanan bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi sesama. Dari kandang-kandang sederhana di desa, semangat kurban bergerak menjadi energi ekonomi nasional yang menghidupkan harapan jutaan masyarakat.
Indonesia patut bersyukur memiliki tradisi qurban yang bukan hanya memperkuat nilai spiritual umat, tetapi juga memperkokoh ekonomi kerakyatan, ketahanan pangan, dan solidaritas sosial bangsa.
“Ketika seekor sapi kurban dibeli dari peternak rakyat, yang bergerak bukan hanya hewan menuju lokasi penyembelihan, tetapi juga harapan keluarga peternak, denyut ekonomi desa, dan semangat gotong royong Indonesia.”
Oleh : Asroni Al Paroya, Kandidat Doktoral UNUSIA Jakarta, Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam Nusantara
