Muzakara.com, Ciputat – Tangerang Selatan – Di tengah meningkatnya tantangan krisis lingkungan, perubahan iklim, serta berbagai persoalan sosial yang berkelindan dengan kerusakan ekologi, peran dakwah dituntut untuk hadir tidak hanya membangun kesalehan spiritual dan sosial, tetapi juga kesadaran ekologis. Berangkat dari semangat tersebut, Syi’ar Da’i Indonesia (SYIDA’I) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Workshop Dakwah Ekologis bertajuk “Dakwah Hijau: Mewujudkan Kesalehan Ekologis, Mensejahterakan Umat” yang berlangsung pada 22–24 Mei 2026 di Aula Moderasi Beragama Pusdiklat/Pusbangkom Kementerian Agama RI, Ciputat, Tangerang Selatan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting pasca pelantikan dan pengukuhan kepengurusan SYIDA’I di bawah kepemimpinan Ustadz Usman Syafruddin. Tidak sekadar menyusun program kerja organisasi, Rakernas kali ini dirancang secara khusus dengan memadukan agenda workshop guna memperkuat arah gerakan dakwah yang relevan dengan tantangan zaman.
Dalam sambutannya, Ketua Umum SYIDA’I, Ustadz Usman Syafruddin, menegaskan bahwa dakwah Islam harus berkembang secara komprehensif dan menyentuh seluruh dimensi kehidupan.
“Rapat kerja nasional ini berbeda dengan yang lain. Dalam Rakernas ini sengaja kami merangkaikannya dengan workshop karena pentingnya memperkuat arah, tujuan, dan paradigma dalam berlembaga. Dakwah harus mampu menjawab persoalan umat secara utuh, termasuk persoalan lingkungan hidup yang menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini orientasi dakwah sering kali berfokus pada hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan sesama (hablum minannas). Padahal, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam sebagai amanah kekhalifahan yang diberikan Allah SWT.
“Sasaran dakwah seharusnya bukan hanya terkait hubungan manusia dengan Allah ataupun hubungan manusia dengan manusia yang lain. Tetapi lebih dari itu, harus ada interaksi yang baik terhadap alam. Allah SWT telah memilih manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk mengelola dan menjaga keberlangsungan kehidupan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ustadz Usman mengingatkan seluruh peserta Rakernas agar menjadikan prinsip 3C: Commitment, Consistency, dan Consequence sebagai fondasi dalam menjalankan program-program organisasi.
“Komitmen harus diwujudkan dalam tindakan nyata, konsistensi harus dijaga dalam setiap langkah perjuangan, dan konsekuensi harus siap ditanggung demi terwujudnya cita-cita organisasi serta kemaslahatan umat,” pesannya.
Rakernas dan Workshop Dakwah Ekologis ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam bidang dakwah, pemberdayaan masyarakat, serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Sebagai Keynote Speaker, hadir Rizal Algamar, Direktur Utama Amanah Daya Nusantara (AYANA), yang memaparkan pentingnya sinergi antara dakwah, pemberdayaan ekonomi umat, dan pelestarian lingkungan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Turut hadir sebagai narasumber KH. Saeful Bahri, MA, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, yang menyoroti urgensi penguatan narasi dakwah lingkungan dalam kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia. Selain itu, Rully Amrullah, Direktur Program AYANA, turut membagikan berbagai praktik baik dan strategi implementasi program dakwah berbasis ekologi yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
Diskusi panel berlangsung dinamis dan konstruktif di bawah moderasi Ustadzah Hj. Rini Ratnaningsih, MM, yang berhasil mengarahkan dialog produktif antara para narasumber dan peserta dalam merumuskan langkah-langkah strategis gerakan dakwah hijau ke depan.
Suasana kegiatan berlangsung khidmat, penuh semangat kebersamaan, dan dedikasi tinggi dari seluruh peserta yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Berbagai gagasan dan rekomendasi strategis lahir dari forum ini, mulai dari penguatan literasi lingkungan berbasis masjid, gerakan penghijauan berbasis komunitas dakwah, pengelolaan sampah yang berkelanjutan, hingga pengembangan ekonomi hijau sebagai instrumen pemberdayaan umat.
Rakernas ini menegaskan bahwa dakwah masa depan tidak cukup hanya berbicara tentang ritual dan moralitas individual, tetapi juga harus mampu melahirkan gerakan kolektif yang menjaga keberlanjutan bumi sebagai amanah Ilahi. Kesalehan ekologis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang harus menjadi bagian dari gerakan dakwah Islam di Indonesia.
Melalui Rakernas dan Workshop Dakwah Ekologis ini, SYIDA’I menunjukkan komitmennya untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan lingkungan dan sosial yang dihadapi bangsa. Dengan mengusung semangat Dakwah Hijau, SYIDA’I berharap dapat membangun kesadaran baru bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah, dan mewujudkan kesejahteraan umat harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.
“Menjaga bumi adalah menjaga amanah Allah. Dakwah hijau adalah jalan menuju kesalehan ekologis dan kesejahteraan umat yang berkelanjutan.” tutup Ust. Usman
(Redaksi)











