Muzakara.com, Jakarta — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan bahwa pembangunan Jakarta tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga harus ditopang oleh nilai spiritual, warisan keulamaan, dan identitas budaya masyarakat Betawi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada kegiatan Haul Ulama dan Habaib Betawi yang digelar di Jakarta dan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai wilayah.
Dalam kesempatan itu, Pramono menyampaikan bahwa ulama dan habaib memiliki kontribusi historis dalam membentuk karakter masyarakat Jakarta melalui dakwah, pendidikan, penguatan moral, serta peran sosial yang terus dirasakan hingga saat ini.

Menurut dia, pembangunan kota yang berkelanjutan perlu berjalan seiring dengan pelestarian nilai, tradisi, dan penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang telah memberikan fondasi bagi kehidupan masyarakat.
“Jakarta memiliki sejarah panjang yang dibangun oleh berbagai unsur, termasuk peran ulama dan habaib yang menjadi penjaga nilai dan perekat sosial masyarakat,” ujar Pramono dalam substansi sambutannya.
Ia menilai kegiatan haul memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar agenda seremonial tahunan. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi sejarah, penguatan silaturahmi, sekaligus sarana mewariskan keteladanan kepada generasi muda.
Acara Haul Ulama dan Habaib Betawi turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan tokoh agama, di antaranya Habib Rizieq Shihab, Gus Muhaimin Iskandar, para ulama dan habaib se-DKI Jakarta, tokoh masyarakat, unsur pemerintah, serta jamaah dari berbagai daerah.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan lantunan shalawat yang dibawakan oleh Habib Syech bersama tim hadrah yang menambah suasana religius dan kebersamaan selama pelaksanaan acara.
Pramono menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan terus membuka ruang bagi kegiatan keagamaan dan kebudayaan yang memperkuat karakter masyarakat serta menjaga kesinambungan nilai yang diwariskan para pendahulu.
Melalui momentum tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap semangat persatuan, penghormatan terhadap ulama, dan pelestarian budaya Betawi dapat terus menjadi bagian dari perjalanan Jakarta menuju kota global yang tetap berakar pada identitas dan nilai kebangsaan.
