Advertisement

  • Home
  • DR. Cemal Sahin Atase Kebudayaan Kedubes Turkiye Untuk Indonesia Dakwah Harus Dibuktikan dengan Kerja Nyata dan Kemajuan Peradaban

DR. Cemal Sahin Atase Kebudayaan Kedubes Turkiye Untuk Indonesia Dakwah Harus Dibuktikan dengan Kerja Nyata dan Kemajuan Peradaban

“Seorang da’i harus benar-benar berdakwah dengan menjadi contoh dalam kesuksesan akademik dan menjadi teladan

Jakarta, Muzakara.com – DR. Cemal Sahin Atase Kebudayaan Kedubes Turkiye Untuk Indonesia menegaskan bahwa dakwah Islam di era modern tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah dan retorika, melainkan harus diwujudkan melalui kerja nyata, pelayanan sosial, profesionalitas, serta kontribusi dalam membangun kemajuan peradaban.

Pandangan tersebut disampaikan dalam agenda Halaqah Tokoh Dakwah Jakarta yang diselenggarakan Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta bersama Forum Komunikasi Lembaga Dakwah (FKLD) Provinsi DKI Jakarta dengan mengusung tema “Peran Da’i/Mubalig dalam Penanganan Konflik Sosial” di Hotel Yuan Garden, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).

Dalam sambutannya, Jamal menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang mendalam kepada para ulama, da’i, dan pejuang dakwah yang selama ini istiqamah mengabdikan hidupnya untuk membina umat dan menjaga nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

MG 1579 scaled

“Para ulama dan da’i adalah orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk dakwah. Karena itu, saya sangat menghormati perjuangan para guru dan ustaz semua,” ujarnya di hadapan peserta halaqah yang terdiri dari tokoh agama, mubalig, pengurus lembaga dakwah, dan unsur masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Jamal juga memaparkan perjalanan sejarah Turki modern pasca runtuhnya Pembubaran Kekhalifahan Utsmaniyah yang menjadi titik perubahan besar dalam kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Turki.

Menurutnya, berbagai kebijakan sekularisasi pada masa awal Republik Turki telah menyebabkan generasi masyarakat perlahan menjauh dari nilai-nilai Islam. Kebijakan tersebut antara lain pembubaran institusi Islam, pembatasan pendidikan agama, pelarangan penggunaan huruf Arab, hingga larangan adzan berbahasa Arab pada periode tertentu.

“Kerusakan lebih mudah terjadi daripada perbaikan. Karena itu proses membangun kembali kesadaran Islam di Turki membutuhkan waktu yang panjang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Jamal menyoroti perubahan besar yang terjadi di Turki sejak kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan pada awal tahun 2000-an. Ia menilai keberhasilan Erdoğan diterima luas oleh masyarakat bukan semata karena identitas keislamannya, tetapi karena keberhasilannya menghadirkan tata kelola pemerintahan yang efektif dan menyentuh kebutuhan masyarakat.

Ia mencontohkan keberhasilan Erdoğan saat menjabat sebagai Wali Kota Istanbul dalam menyelesaikan persoalan mendasar seperti krisis air bersih, pengelolaan sampah, layanan kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur kota yang sebelumnya menjadi persoalan serius di Turki.

“Dakwah tidak cukup hanya dengan ceramah. Dakwah juga harus diwujudkan melalui kerja nyata, pelayanan kepada masyarakat, profesionalitas, dan kemajuan peradaban,” tegas Jamal.

Menurutnya, umat Islam saat ini perlu memperkuat kualitas sumber daya manusia, pendidikan, etos kerja, serta kontribusi sosial sebagai bagian integral dari dakwah modern. Masyarakat dinilai akan lebih mudah menerima nilai-nilai Islam ketika melihat manfaat nyata yang dihadirkan umat Islam dalam kehidupan sosial dan pembangunan masyarakat.

Dalam penutupnya, Jamal mengajak seluruh elemen umat untuk terus memperkuat ukhuwah, membangun generasi muda yang unggul, serta menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin melalui kontribusi nyata di berbagai bidang kehidupan.

“Perubahan besar sebuah bangsa dimulai dari manusia-manusia yang bekerja dengan ikhlas, disiplin, dan istiqamah,” pungkasnya.

Hubungan Turki–Indonesia

Hubungan antara Indonesia dan Turki selama ini terus berkembang dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kebudayaan, sosial, hingga kerja sama umat Islam. Kedua negara memiliki hubungan historis dan emosional yang kuat sebagai bangsa mayoritas Muslim yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, kemanusiaan, dan peradaban.

Artikel Terkait