Advertisement

  • Home
  • Jakarta Menghadapi Tantangan Serius yang Membutuhkan Perhatian Bersama lintas Sektor

Jakarta Menghadapi Tantangan Serius yang Membutuhkan Perhatian Bersama lintas Sektor

“Jakarta tidak cukup hanya menjadi kota besar, tetapi harus menjadi kota yang layak huni,

Jakarta, Muzakara.com- Pertumbuhan ekonomi Jakarta yang terus meningkat dan posisi strategisnya sebagai pusat aktivitas nasional dinilai membawa konsekuensi besar terhadap persoalan lingkungan, urbanisasi, dan dinamika sosial masyarakat perkotaan. Di tengah capaian ekonomi yang diperkirakan telah menembus lebih dari 300 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp400 triliun, Jakarta menghadapi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama lintas sektor.

Hal tersebut disampaikan Ketua Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta, KH. Jamaluddin F Hasyim dalam agenda Halaqah Tokoh Dakwah Jakarta yang diselenggarakan bersama Forum Komunikasi Lembaga Dakwah (FKLD) Provinsi DKI Jakarta mengusung tema “Peran Da’i atau Mubalig dalam Penanganan Konflik Sosial” di Hotel Yuan Garden, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).

Dalam pemaparannya, Ketua KODI DKI Jakarta menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta saat ini didorong oleh sektor transportasi, logistik, perdagangan barang, serta ekspor jasa. Kondisi tersebut menjadikan Jakarta tetap sebagai magnet urbanisasi terbesar di Indonesia dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi setiap harinya.

Namun demikian, di balik kekuatan ekonomi tersebut, Jakarta menghadapi ancaman serius akibat kondisi geografis dan kerusakan lingkungan. Dari total luas wilayah sekitar 1.522 kilometer persegi, hampir 40 persen wilayah Jakarta saat ini berada di bawah permukaan laut. Penurunan muka tanah yang diperkirakan mencapai 5–10 sentimeter per tahun berpotensi meningkatkan risiko banjir rob dan tenggelamnya sebagian wilayah Jakarta pada masa mendatang apabila tidak ditangani secara serius dan berkelanjutan.

“Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa solusi jangka panjang yang terukur dan konsisten, maka bukan tidak mungkin 30 hingga 40 tahun mendatang masyarakat Jakarta harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang sangat ekstrem akibat kenaikan permukaan air laut dan penurunan tanah,” ujar KH. Jamaluddin F Hasyim.

Selain persoalan penurunan tanah, Jakarta juga masih menghadapi persoalan banjir tahunan akibat tingginya curah hujan, buruknya sistem drainase, serta eksploitasi air tanah yang terus berlangsung. Banjir besar yang terjadi pada Maret 2025 tercatat berdampak terhadap lebih dari 90 ribu warga dan menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan.

Di sektor sosial, kepadatan penduduk di sejumlah wilayah Jakarta dinilai turut mempengaruhi kualitas hidup masyarakat perkotaan. Banyak warga hidup di kawasan dengan ruang hunian terbatas, minim ruang terbuka, serta rendahnya privasi sosial. Kondisi tersebut berdampak pada kesehatan mental, pola interaksi sosial, hingga meningkatnya potensi konflik di tengah masyarakat.

Fenomena urbanisasi yang terus meningkat juga memperlihatkan tingginya mobilitas komuter dari wilayah penyangga seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang menuju Jakarta. Pada siang hari, jumlah penduduk di ibu kota diperkirakan mencapai lebih dari 12 juta jiwa, yang turut menjadi faktor utama tingginya kemacetan lalu lintas.

Meski demikian, perkembangan infrastruktur dan penataan kota dalam dua dekade terakhir dinilai menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan. Modernisasi transportasi publik, pembangunan kawasan transit terpadu, serta penataan terminal dan stasiun menjadi bagian penting dalam upaya membangun Jakarta yang lebih tertata dan efisien.

Ketua KODI DKI Jakarta juga menyoroti pentingnya penguatan nilai sosial dan pembinaan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan perkotaan. Tawuran antarwilayah, konflik warga, hingga degradasi nilai sosial di tengah masyarakat urban dinilai masih menjadi tantangan nyata yang memerlukan pendekatan keamanan sekaligus pembinaan sosial dan spiritual secara berkelanjutan.

 

MG 1708 scaledMenurutnya, pembangunan Jakarta ke depan tidak dapat hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik semata, melainkan juga harus menempatkan kualitas hidup masyarakat, keberlanjutan lingkungan, serta penguatan nilai kemanusiaan sebagai prioritas utama.

“Jakarta tidak cukup hanya menjadi kota besar, tetapi harus menjadi kota yang layak huni, manusiawi, berkeadaban, serta mampu memberikan rasa aman dan kesejahteraan bagi seluruh warganya,” tutup KH. Jamaluddin F Hasyim.

Artikel Terkait