Muzakara.com – Di tengah geliat dunia digital yang semakin cepat dan kompleks, muncul satu kegelisahan yang sering kita dengar: mengapa sebagian anak muda tampak semakin jauh dari kajian keislaman? Masjid tidak lagi seramai dulu oleh generasi muda, majelis ilmu terasa “menua”, dan ruang-ruang diskusi agama kalah ramai dibandingkan platform hiburan. Namun, alih-alih menyimpulkan dengan nada menyalahkan, kita perlu melihat fenomena ini dengan kacamata yang lebih jernih, adil, dan mendalam.
Tulisan ini berangkat dari satu keyakinan: bahwa setiap generasi memiliki tantangannya sendiri, dan tugas dakwah bukan sekadar menghakimi, tetapi memahami dan menjembatani.
1. Pergeseran Makna “Kajian” di Mata Anak Muda
Bagi sebagian anak muda hari ini, “kajian” sering diasosiasikan dengan sesuatu yang kaku, satu arah, dan kurang relevan dengan realitas hidup mereka. Padahal, Islam sejak awal sangat menjunjung tinggi dialog, nalar, dan pencarian makna.
Allah SWT berfirman:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menegaskan bahwa pendekatan dalam menyampaikan ilmu harus penuh hikmah dan relevansi. Jika metode penyampaian tidak lagi menyentuh kebutuhan psikologis dan intelektual generasi muda, maka wajar jika mereka merasa “tidak terhubung”.
2. Dunia Digital: Distraksi atau Alternatif?
Tidak bisa dipungkiri, anak muda hari ini hidup dalam ekosistem digital yang sangat padat informasi. Mereka terbiasa dengan konten singkat, visual menarik, dan interaktif. Sementara itu, banyak kajian masih bertahan dalam format lama: ceramah panjang tanpa interaksi.
Namun, masalahnya bukan pada anak muda semata, melainkan pada bagaimana dakwah merespons perubahan ini. Apakah dakwah hadir di tempat mereka berada?
Rasulullah ﷺ bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)
Hadits ini memberi isyarat bahwa penyampaian kebenaran tidak harus selalu dalam bentuk besar dan panjang. Bahkan satu ayat pun bisa menjadi cahaya, jika disampaikan dengan cara yang tepat. Di era digital, ini bisa berarti konten singkat, video reflektif, atau tulisan yang relatable.
3. Krisis Keteladanan dan Kepercayaan
Sebagian anak muda juga mengalami krisis kepercayaan terhadap figur-figur agama. Bukan karena mereka anti terhadap agama, tetapi karena adanya disonansi antara apa yang diajarkan dan apa yang terlihat.
Imam Malik رحمه الله pernah berkata:
“Ilmu itu bukan sekadar banyaknya riwayat, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
Ketika ilmu kehilangan cahaya akhlak, ia menjadi dingin dan tidak menggerakkan. Anak muda hari ini sangat peka terhadap keotentikan. Mereka mencari sosok yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga tulus, rendah hati, dan memahami realitas mereka.
4. Bahasa yang Tidak Lagi “Menyapa”
Bahasa dakwah sering kali terlalu normatif, penuh istilah, dan kurang menyentuh realitas konkret kehidupan anak muda: kegelisahan karier, tekanan sosial, kesehatan mental, hingga relasi personal.
Padahal Al-Qur’an sendiri berbicara dengan bahasa yang sangat manusiawi—menyentuh hati, bukan hanya logika.
Allah SWT berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kelembutan dan empati adalah kunci kedekatan. Jika bahasa dakwah terasa menghakimi, maka jarak itu bukan karena anak muda menolak agama, tetapi karena mereka tidak merasa dipahami.
5. Perspektif Ulama: Memahami Zaman adalah Bagian dari Dakwah
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah رحمه الله pernah menegaskan:
“Seorang mufti atau da’i tidak boleh hanya memahami teks, tetapi juga harus memahami realitas manusia.”
Dalam konteks hari ini, memahami realitas berarti mengerti dinamika media sosial, tekanan budaya populer, serta perubahan cara berpikir generasi muda.
Begitu pula Imam Syafi’i رحمه الله yang dikenal memiliki dua qaul (pendapat)—qaul qadim dan qaul jadid—sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan konteks. Ini menunjukkan bahwa fleksibilitas dalam metode adalah bagian dari kedalaman ilmu, bukan penyimpangan.
6. Relevansi Kekinian: Bukan Mengubah Islam, Tapi Cara Menyampaikan
Penting untuk ditegaskan: yang perlu diperbarui bukan ajaran Islam, tetapi cara menyampaikannya. Nilai-nilai Islam tetap abadi, namun kemasannya perlu kontekstual.
Anak muda hari ini sebenarnya haus makna. Mereka mencari tujuan hidup, ketenangan batin, dan arah yang jelas. Namun jika kajian tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial mereka, maka mereka akan mencarinya di tempat lain—yang belum tentu benar.
Di sinilah dakwah ditantang untuk hadir sebagai solusi, bukan sekadar seruan.
Penutup: Dari Menghakimi ke Memahami
Fenomena menjauhnya sebagian anak muda dari kajian bukanlah tanda kegagalan generasi, melainkan panggilan bagi para pendakwah untuk berbenah. Kita tidak sedang kehilangan generasi, tetapi mungkin belum sepenuhnya menemukan cara untuk menjangkau mereka.
Dakwah yang hidup adalah dakwah yang mendengar, memahami, dan merangkul. Bukan yang sekadar berbicara.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan Islam, tetapi juga memahami manusia—maka demikian pula seharusnya kita hari ini.
Maka pertanyaannya bukan lagi: “Kenapa anak muda menjauh?”
Tetapi: “Sudahkah kita mendekat dengan cara yang mereka pahami?”
Di situlah awal perubahan akan dimulai.
Muzakara.com “Menggali Ilmu, Mencerahkan Umat”
